Mencetak Para Juara dalam 12 Bulan

 Part 1 

PENDAHULUAN

Masalah pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih belum banyak peningkatan. Dari hasil lembaga riset internasional tentang kualitas pendidikan di dunia, Indonesia selalu dibawah bahkan dibanding dengan negara tetangga sekalipun seperti Malaysia dan Philiphina. Hal ini disebabkan banyak faktor diantaranya kualitas sumber Daya Guru maupun sarana prasarana yang belum mewadai. Meskipun pemerintah sudah berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan guru akan tetapi juga belum berimbang pada meningkatnya kualitas pendidikan. 

Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia salah satunya adanya faktor guru hanya berkonsentrasi pada terget mentransfer materi mata pelajaran yang ditargetkan dikurikulum saja. Proses pembelajaran belum diintegrasikan pada pembentukan karakter bangsa. Hal inilah yang menyebabkan rusaknya moralitas generasi muda yang mengakibatkan nilai mutu lulusan rendah. 

Sejak awal Islam telah mengajarkan pada pendidikan karakter. Sesuai tradisinya, pendidikan islam sesungguhnya lebih menekankan pada aspek pendidikan karakter, sepeerti yang terlihat pada berbagai macam pelajaran yang diajarkan di pendidikan Islam. Meski demikian juga tetap memberikan porsi yang cukup banyak untuk mata pelajaran umum seperti matematika, bahasa, astronomi dan sebagainya.  

PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN 

Profesi guru adalah profesi yang mulia. Seorang guru dituntut untuk memiliki values yang tinggi. Dimasyarakat seorang guru harus bisa berprilaku yang baik, usahakan bisa menjadi contoh prilaku yang bisa dicontoh. Tugas pokok seorang guru adalah mentrasfer ilmu pengetahuan ( knowledge) dan juga mentrasfer nilai (values). Menjalankan dua peran ini tidaklah mudah, dibutuhkan pendidikan akademis yang mewadai dan keterampilan mengajar yang prima. 

Seorang guru dapat dikatakan berhasil jika murid dapat memahami teori-teori yang telah ia sampaikan, artinya dari yang tidak tahu menjadi tahu sehingga murid mengalami perubahan secara kognitif. Hal tersebut cukup diusahakan dengan seorang guru menjelaskan terkait suatu materi dengan menunjukkan medianya serta memberikan contoh-contoh konkritnya. 

Sedangkan transfer velues atau nilai ini cukup bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, akan tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama dan proses yang agak rumit. Sebuah nilai baru akan tumbuh dalam diri seorang murid jika dia mengalami nilai-nilai yang diajarkan itu secara berulang-ulang dalam konteks kehidupan yang nyata. Trasfer ilmu tidak bisa dilakukan dengan memberi teori akan tetapi seorang murid harus mengalaminya dengan melibatkan seluruh aspek yang ada pada diri baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotoriknya. Faktor pendukung suksesnya juga tergantung dari kekompakan dari komunitas sekolah, anggota keluarga maupun lingkungan masyarakat. 

Dengan melakukan trasfer ilmu dan nilai maka akan tercipta sistem pendidikan yang totalitas. Yaitu pendidikan yang tidak hanya mentrasfer ilmu pengetahuan di dalam kelas akan tetapi juga ada pembentukan watak dan karakter. 

MISI PENDIDIKAN ISLAM

Dalam pandangan islam sesungguhnya menuntut ilmu bukannya hanya sekedar untuk mendapatkan gelar atau ijazah, dengan semikian seseorang akan mendapatkan kekayaan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi jauh dari itu tujuan pendidikan islam sesungguhnya adalah untuk membentuk manusia seutuhnya yang mengabdi kepada Allah SWT. Sebagaimana yang telah kita ketahui terangkum dalam firman Allah SWT " Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah aku". Konsep disini tidak hanya hubungan manusia dengan Allah akan tetapi juga manusia dengan manusia yang lainnya. 

Konsep pendidikan Islam yang diinginkan bisa mencetak manusia yang dapat berguna bagi manusia lainnya. Sebagai mana perannya manusia sebagai khalifah di dunia, berarti dia harus bisa mengurus dirinya dan juga orang lain. Maksud mengurus disini tidak hanya hubungannya dengan masalh sosial dengan manusia akan tetapi juga diharapkan sesorang dapat mengeksplore rahasia alam untuk kepentingan umat manusia di dunia. Dengan ilmunya seseorang tidak hanya mewujudkan kehidupan yang religius akan tetapi kehidupan yang makmur dan sejahtera. 

Longlife education, pendidikan islam tidak hanya mendidik anak menjadi lebih pintar, akan tetapi juga mendidik mereka menjadi manusia yang berperadaban. Mendidik orang menjadi lebih pintar seringkali leboh mudah jika dibanding mendidik orang menjadi manusia yang berakhlaq baik. 

PENDIDIKAN, KELUARGA DAN NEGARA

" Pengembangan efektif kekuatan otak disuatu negara akan menentukan kesejahteraan negara tersebut di masa depan" Stan Shih,CEO Acer, 

Jika suatu negara ingin maju dan berkualitas maka kuasailah dulu ilmu pengetahuan. Dengan sebuah ilmu pengetahuan itu suatu negara akan dengan mudah menggapai cita-citanya. Ilmu pengetahuan ibarat penerang yang mampu mengubah jalan keburukan menjadi kebaikan, kebodohan menjadi kebajika dan kehancuran menjadi kejayaan. 

Ibnu Sina dalam bukunya al - Siyasah (politik) mengupas pentingnya peran keluarga, rumah tangga dan pendidikan bagi keberlangsungan sebuah negara. Meskipun secara esensi pembehasan ketiganya berbeda akan tetapi ketiganya merupakan unsur yang tidak bisa dipisahkan dari negara. Kelyarga dan rumah tangga bagi Ibnu Sina adalah sumber utama dan sumber inspirasi dari sebauh negara. Sebuah negara yang besar dibangun dari keluarga dan rumah tangga yang baik. 

Pendidikan menurut Ibnu Sina adalah self education, atau mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain. Oleh karena itu sebelum manusia mendidik dan memerintah orang lain sebaiknya dia pandai mendidik dirinya sendiri terlebih dulu, sehingga tujuannya untuk menanamkan nilai-nilai dan ilmu pengetahuan terhadap peserta didik dapat tercapai dengan baik. 


Komentar

Postingan Populer