Penguatan Numerasi demi Masa Depan Anak Perempuan dalam STEM.
Belajar
Bareng dan Peringatan Hari Perempuan Internasional
“Penguatan
Numerasi demi Masa Depan Anak Perempuan dalam STEM”
Inovasi
untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI)
Hari
Rabu, 12 Maret 2025 pukul 13.00 – 15.00 WIB melalui Zoom
SD Muhammadiyah 3 IKROM Wage
mendapat amanah menjadi piloting projek literasi dan numerasi dari INOVASI. SK
amanah piloting projek literasi tahun 2017 didapat dari Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Jawa Timur. Sedangkan SK amanah piloting projek numerasi tahun 2021
didapat dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jawa Timur. Praktik baik piloting
literasi dan numerasi yang dilakukan INOVASI ini dapat menjawab permasalahan
guru dalam memberikan pembelajaran literasi terutama numerasi untuk anak
didiknya. Demikian karena guru mendapatkan pelatihan yang dapat meningkatkan pemahaman tentang konsep dan
mengembangkan metode pengajaran yang menarik.
A . Proses
Piloting INOVASI
Model piloting
baik literasi maupun numerasi oleh INOVASI itu sama. Caranya dengan memberikan
pelatihan dan pendampingan pemahaman konsep dan metode pengajaran beberapa
materi literasi dan numerasi kepada guru perwakilan sekolah. Perwakilan guru
yang mendapatkan pelatihan langsung dari INOVASI ini diberi nama fasilitator
daerah yang disingkat dengan Fasda. Setelah semua materi didapat kemudian Fasda
mendesiminasikan ke semua sekolah SD/MI Muhammadiyah di kabupaten Sidoarjo yang
berjumlah 20 saat itu sebelum berkembang menjadi 22 sekarang ini. Setelah
proses desiminasi ini selesai selanjutnya fasda bersama INOVASI melaksanakan
monev pembelajaran ke semua sekolah- sekolah yang mendapatkan desiminasi. Kegiatan
penutupan dibingkai dengan acara gelar karya/ show case hasil pembelajaran
yaitu berupa media pembelajara yang telah dibuat oleh guru. Show case numerasi
saat itu diletakkan di SD Muhammadiyah 3 IKROM Wage.
Akan tetapi dalam pembiayaan model piloting antara literasi dan numerasi berbeda. Piloting literasi dibiayai sepenuhnya oleh INOVASI sedangkan untuk piloting numerasi berbiaya mandiri. Meskipun biaya mandiri tapi kami sangat antusius untuk mengikutinya. Demikian karena kami sudah merasakan dampak baik hasil pembelajaran dari pelatihan literasi yang telah didapat sebelumnya. Melalui MKKS yaitu perkumpulan kepala sekolah SD/MI Muhammadiyah Se Kabupaten Sidoarjo membuat terobosan biaya subsidi silang agar semua sekolah bisa merasakan dampak baiknya. Maksud dari subsidi silang disini adalah sekolah yang jumlah muridnya banyak mengeluarkan biaya yang lebih banyak dari pada sekolah yang jumlah muridnya lebih sedikit.
B. Perubahan/Dampak
yang Muncul Setelah Pelaksanaan Piloting Numerasi
Piloting numerasi di SD
Muhammadiyah 3 IKROM Wage berdampak pada peruhan cara mengajar guru. Awalnya guru
mengajar dengan cara konvensional yaitu mengajar dengan cara menjelaskan teori dan
memberikan rumus matematika di papan tulis. Murid mengenal materi matematika dengan
cara menghafalkan rumus dan mengikuti tahapan penggunakan rumus tersebut untuk
menyelesaikan masalah. Alhasil murid tidak faham maksud dan manfaat belajar
ilmu matematika tersebut. Dengan cara tersebut murid hanya bisa menyelesaikan
soal menggunakan tahapan cara yang sudah dihafal akan tetapi tidak lama hafalan
itupun menghilang. Pembelajaran juga menjenuhkan dan tidak menyenangkan.
Akan tetapi setelah mendapatkan
piloting numerasi ini, mindseet guru untuk mengajar matematika dapat dibuka.
Cakrawala cara mengajar yang tepat dan menyenangkan itu dapat direalisasikan
dengan baik. Guru membuat perencanaan mengajar matematika dengan tahapan
pembelajaran yang terstruktur dan konkrit. Guru juga membuat media konkrit
sebagai alat mengajar, agar materi dapat difahami murid dengan mudah. Alhasil
pembelajaran matematika jadi lebih menyenangkan dan bermakna. Pembelajaran
matematika yang awalnya menjadi momok atau sesuatu yang menakutkan karena
sulit. Sekarang belajar matematika itu sama saja dengan pelajaran lainnya mudah
dan menyenangkan.
Dampak dari adanya pembelajaran
matematika yang mudah dan menyenangkan ini dapat dirasakan hasilnya dengan
melihat raport pendidikan sekolah yang meningkat setiap tahunnya. Raport
pendidikan sekolah tahun 2022 prosentase capaiannya sebesar 89%, tahun 2023 90%
dan tahun 2024 100%. Dari hasil observasi kami melalui data random yang
mengikuti ujian Asesmen Nasional yang berjumlah 30 murid dari kelas 5 tiap
tahunnya jumlah anak perempuan dan anak laki laki sama yaitu masing-masing lima belas murid.
SD Muhammadiyah 3 IKROM Wage
setelah menjadi piloting literasi di tahun 2017 mengalami peningkatan
pembelajaran yang cukup baik. Agar menunjang pembelajaran lebih maksimal
lagi ditahun tersebut sekolah juga
melakukan inovasi yang cukup besar yaitu merubah ekstrakurikuler yang diberi
nama PDS (Pengembangan Diri Siswa) awalnya 16 menjadi 27 PDS hingga sekarang
ini berkembang menjadi 29 PDS setelah tahun 2021 pasca menjadi piloting
numerasi. Adapun 29 PDS tersebut diantaranya Menari,
Renang, Qiro'ah, Melukis, Tapak Suci ,
Tahfidz, Kaligrafi, Dacil, Dokcil, Bina Vokalia, HW, English Club, Math Club,
Arabic Club, Sains Club, Futsal, Panahan, Bulutangkis , Krecil, Catur, I-Chef,
Atletik, Tenis Meja, Ikroman,Takmir Kidz, KKO Math, KKO Sains, Robotik, Coding.
Semua PDS terbuka lebar bagi siapa saja baik murid laki-laki maupun perempuan
untuk mengikutinya. Demikian karena semua murid memiliki hak yang sama untuk
mengembangkan bakat dan minatnya agar sama-sama berprestasi. Terutama untuk
anak perempuan yang memiliki latar belakang sejarah yang dibedakan dengan anak
laki-laki.
C. Piloting Numerasi Menginspirasi Peserta Didik Perempuan Belajar dan Meningkatkan Kemampuan Dasar.
Sedangkan untuk menindaklanjuti
piloting numerasi mandiri tahun 2021 yang menghasilkan produk guru dapat
mendesain proses pembelajaran menjadi interaktif dan inovatif maka SD
Muhammadiyah 3 IKROM Wage menerapkan pembelajaran STEM (Science,
Technology, Engineering and Mathematics). Menurut Arina Fauziah tahun 2024 dalam jurnal cendekia menyampaikan bahwa model
pembelajaran STEM merupakan model pembelajaran yang membimbing murid agar aktif
dalam proses pembelajaran sehingga mampu mengembangkan kemampuan berpikir
kreatif, yang ditandai dengan keberhasilan dalam memecahkan masalah.
Langkah sekolah untuk memaksimalkan pembelajaran STEM selanjutnya adalah dengan cara membuka jenis PDS menggunakan media berbasis teknologi yaitu PDS Robotik dan Coding. Kedua PDS tersebut menuntut kemampuan berfikir kritis murid dalam memacahkan masalah meskipun masih kemampuan dasar. Sedang beberapa PDS keluar ditahun sebelumnya yang juga dapat mendukung pembelajaran STEM diantaranya Dokcil, Sains Club , Math Club dan Krecil. Untuk keenam jenis PDS tersebut sampai sekarang masih dipertahankan. Karena faktanya ada beberapa PDS yang tadinya ada kemudian dihapus karena peminatnya sedikit dan dinilai kurang efektif dalam menjawab tantangan hidup saat ini. Semua jenis PDS tersebut bisa diikuti anak perempuan dan juga anak laki-laki begitu juga pembina dari PDS tersebut diambil dari orang-orang yang ahli dibidangnya bukan dari kategori jenis kelaminnya. Hanya saja dari ke enam jenis PDS ini dua PDS yaitu Robotik dan Coding dibina oleh Dani arindah Yulianto,ST berjenis kelamin laki-laki sedangkan empat jenis PDS lainnya dibina oleh guru perempuan.
Dokcil singkatan dari Dokter Cilik. Pelatih PDS adalah Nur Ngaini,S.Pd guru perempuan yang mengajar olahraga dan juga mendapat amanah sebagai kepala UKS. Nur Ngaini yang telah berhasil membawa UKS sekolah menjadi UKS berprestasi ini menjadi pelatih Dokcil. Peserta Dokcil ini juga menjadi kader UKS (Usaha Kesehatan Sekolah ) yang dilatih khusus untuk menjadi garda terdepan sehingga dapat memberikan penanganan pertama jika terjadi kecelakaan kecil pada temannya di sekolah. Mereka juga mendapat ruang lingkup yang luas untuk dapat merealisasikan ilmu dan pengalamnnya dengan menjadi petugas piket UKS setiap harinya.
Sains Club adalah jenis PDS yang dibuat untuk memberikan peluang kepada murid yang memiliki ketertarikan lebih untuk meneliti hal-hal yang bersifat saintis. Pelatih dari PDS ini adalah ustadzah Presty Nur Diana, S.Si yang berjenis kelamin perempuan. Sedangkan Math Club adalah jenis PDS yang dibuat secara khusus untuk mewadai anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibidang numerasi. Dalam PDS tersebut mereka berlatih memecahkan masalah matematis dengan menggunakan cara-cara logis dan praktis dalam binaan ustadzah Nur Suciati, M.Pd yang juga berjenis kelamin perempuan. Sedangkan PDS Krecil singkatan dari Kreator Cilik yang bertugas menyulap barang bekas seperti botol, kardus, kertas dan kain bekas menjadi barang siap guna dan bernilai sebagai souvenir sekolah ini sukses dibimbing oleh ustadzah Winarti, S.Pd yang juga berjenis kelamin perempuan. Keempat jenis PDS yang dibina oleh semua perempuan ini telah berhasil mendapatkan prestasi mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat internasional. Sedangkan untuk Robotik dan Coding sudah menjadi PDS Favorit yang bisa memberikan refreshing tersendiri bagi anak-anak meskipun belum menelorkan prestasi.
Alhamdulillah Keenam jenis PDS itu juga dapat mensupport keberhasilan pembelajaran STEM. Dari data peserta PDS tersebut
yang masuk di dalamnya adalah anak-anak yang suka berfikir kritis dan lebih
banyak pesertanya adalah anak perempuan jika dibanding anak laki-laki. Hal tersebut
dapat dilihat dari data berikut, jumlah peserta PDS krecil adalah 34 semua anak
perempuan, peserta PDS robotik ada 26 murid semua laki-laki, sedangkan PDS
coding jumlah pesertanya 52 terdiri dari 9 perempuan dan 43 laki-laki, PDS
dokcil 28 perempuan dan 1 laki-laki, Math club 9 perempuan dan 6 laki-laki,
science Club 24 perempuan dan 9
laki-laki. Dari data tersebut didapat jumlah murid perempuan lebih banyak dari
pada jumlah murid laki-laki yaitu berbanding 104 : 85. Sedangkan total jumlah
murid 633 terdiri dari 301 perempuan dan 332 laki-laki. Kesimpulannya anak
perempuan lebih suka pembelajaran memecahkan masalah yang membutuhkan berfikir
kritis dibandingkan anak laki-laki. Oleh karena itu anak perempuan memiliki
potensi yang cukup besar sehingga sekolah tidak pernah membedakan dalam hal
pembelajaran antara anak perempuan dan anak laki-laki kecuali dalam
aturan-aturan islam yang harus membedakan keduanya.
Jangankan batasan untuk anak
perempuan, PDS juga bisa diikuti oleh semua anak termasuk anak berkebutuhan
khusus. SD Muhammadiyah 3 IKROM Wage memiliki dua belas anak berkebutuhan
khusus dengan berbagai macam jenis hambatan. Dari dua belas anak berkebutuhan
khusus ini perempuan hanya ada dua saja. Adapun data peserta PDS anak
berkebutuhan khusus diantaranya ; 1) Abil mengikuti PDS atletik, tapak suci dan
HW; 2) Fadlan mengikuti PDS atletik, renang dan bulu tangkis; 3) Dhiyah
mengikuti PDS I-chef dan krecil ; 4) Ghifari mengikuti PDS futsal, renang dan melukis
; 5) Alfa mengikuti PDS tapak suci ; 6) Ahmad mengikuti PDS melukis; 7) Nizam
mengikuti PDS tapak suci; 8) Dilan mengikuti PDS renang dan tapak suci; 9) Sasa
mengikuti PDS futsal, tapak suci dan melukis;
10) Hazza mengikuti PDS tapak suci. Sedangkan
dua anak lainnya berada di kelas enam yang banyak agenda ujian sehingga tidak
mengikuti PDS. Dari data peserta PDS
anak berkebutuhan khusus tersebut juga menunjukkan hanya murid perempuan yang
mengikuti PDS yang terkoneksi dengan STEM yaitu krecil.
SD Muhammadiyah 3 IKROM Wage akan terus belajar berinovasi untuk menciptakan pendidikan yang bermutu. Pembelajaran STEM akan terus digiatkan dengan cara terus melakukan evaluasi dan meningkatkan kemampuan mengajar guru. Dengan STEM akan lahir generasi militan yang dapat berfikir kritis demi masa depan bangsa kita. Tidak menutup kemungkinan untuk anak – anak perempuan yang juga berpeluang menjadi pemimpin bangsa.
https://j-cup.org/index.php/cendekia/article/view/3225

Komentar
Posting Komentar